Keterbatasan.


Saya mencoba meyakinkan diri berkali - kali bahwa keterbatasan bukanlah sebuah alasan. Namun kali ini saya meragu. Bahkan terbenam rasa pesimisme akut yang menderu.

Sewaktu kuliah, entah bagaimana saya sangat menyukai desain grafis, walaupun jurusan saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia seni. Salah jurusan, mungkin anda sering mendengar kata ini sebelumnya.

Saya mulai membaca buku desain, belajar aplikasi desain, mengulik sendiri berbekal nonton video youtube. Sampai pada suatu hari, ada permintaan seorang teman daripada teman saya yang minta dibuatkan desain backdrop untuk sebuah acara muktamar.

Itu kali pertama saya mengiyakan sebuah pekerjaan desain grafis. Seorang mahasiswa semester 3, bukan dari background desain, belajar desain secara otodidak dengan peralatan seadanya. Belum ada pengalaman sama sekali.

Tak disangka, klien pertama saya ini (yang tidak pernah saya ketahui wajahnya, karena kami hanya berhubungan via email) cukup puas dengan hasil desain yang saya buat.

Saya sangat ingat, 250 ribu rupiah ditransfer ke rekening saya saat itu. Hasil pertama saya dari desain. Saya tidak tau rate desainer seorang pemula berapa saat itu, namun saya sudah sangat senang karena karya saya diapresiasi.

Makanya hari ini saya berpikir, kenapa saya bisa ragu. Kenapa saya takut karena kini sumber daya saya terbatas. Kenapa saya tidak seperti dulu yang maju tanpa ragu.

Tak perlu punya ini itu dulu baru bisa berkarya. Tak perlu beli ini itu. Mulai saja. Mulai dengan apa yang kita punya saat ini.

Keterbatasan itu hanya ada dalam pikiran. Membatasi ruang gerak. Menjauhkan kita dari karya. 

Justru dengan keterbatasan, harusnya kita bisa lebih berkembang. 

Bukankah begitu?


Gambar oleh  Emma Ou pada Unsplash