Keinginan.

Photo by Ryugi


Saya begitu ingin memiliki sebuah puffer jacket berwarna hitam dengan sebuah penutup kepala yang bisa dilepas pasang. Dilengkapi dengan bulu angsa yang ringan yang membuat tubuh hangat.

Saya sudah riset di beberapa marketplace dan menaruh item tersebut di keranjang belanja. Namun belum ada satu pun yang saya check out.

Saya masih ragu untuk membelinya. Pertanyaan besar yang masih terbenam di kepala saya adalah untuk apa sebuah puffer jacket?

Saya saat ini tinggal di sebuah daerah yang cukup panas. Di kelilingi laut. Kelembapan pun tinggi. Puffer jacket bukanlah jawaban untuk kondisi tempat yang saya tinggali.

Namun namanya keinginan, entah bagaimana otak saya menstimulasi keinginan tersebut menjadi seolah sesuatu yang saya butuhkan.

Modelnya bagus, kekinian, bisa dipadu-padankan dengan ini itu, nanti akan sangat berguna dan bisa dipakai saat seperti ini dan bla bla bla.

Faktanya semua hanya keinginan, bukan kebutuhan.

Beberapa kali saya terjebak dengan hal semacam ini, berakhir dengan "tidak terpakai" alias mubazir.

Masalahnya bukan karena saya tidak bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan, namun lebih kepada saya sering kali berhasil dikelabui oleh syahwat keinginan saya.

Saya dan anda barangkali mungkin tidak sadar sedang dikelabui. Semua terasa benar dan masuk akal. Padahal semuanya semu, cuma angan dari keinginan kita yang ingin dipenuhi.

Pelan namun pasti akal sehat kita pun telah tergadai dengan sendirinya.

Sekali dua kali dikelabui, kita belajar, lebih dari itu, kita telah menjadi seorang budak.



Komentar

Form for Contact Page (Do not remove)